Indahnya Bercinta dengan Pacar di Banding Isteri

Konsultasi Seks oleh Prof.DR.dr.Wimpie Pangkahila, Sp.And Sudah lima tahun ia mengajari isterinya bermain cinta, tapi tak ada hasilnya.
Tepatkah jika ia lantas menyelesaikan sendiri urusan seksualnya? “Sudah lima tahun saya menikah, dan menghasilkan satu anak berusia tiga tahun. Saat ini usia saya 42 tahun, isteri 32 tahun. Perkawinan kami baik-baik saja, tapi ada hal yang kurang memuaskan bagi diri saya. Sebelum menikah, saya pernah tinggal di Amerika selama empat tahun. Selama itu saya sempat berpacaran dengan seorang wanita setempat. Sepulang saya ke Indonesia, saya juga sempat pacaran lagi dengan teman satu grup perusahaan.
Dalam dua pengalaman pacaran itu, saya memiliki pengalaman seksual yang sangat menyenangkan. Mungkin kebetulan kedua pacar saya memiliki minat tinggi terhadap seks, dan dapat menikmatinya. Sayangnya saya tidak bisa menikah dengan salah satu pun dari mereka, karena perbedaan agama. Saya kemudian menikah dengan wanita sangat alim dan puritan, yang sikapnya terhadap seks sangat berkebalikan dengan kedua bekas pacar saya itu.
Sudah saya usahakan dengan berbagai cara untuk menghangatkan suasana dan menaikkan libido, bahkan mengajari dan menuntunnya, tetap tak ada respon yang sebanding. Saya pun sudah beberapa kali bicara padanya, yang intinya memberitahu bahwa dia tidak perlu malu untuk mengekspresikan keinginannya akan seks, tidak perlu ragu-ragu/sungkan, karena saya mengharapkan isteri yang hangat pula saat di ranjang.

Dia selalu bilang iya, tapi tak ada kemajuan. Padahal dia tidak memiliki pengalaman buruk mengenai seks di masa lalu yang menyebabkan trauma misalnya. Dan mestinya dia merasakan kesabaran dan bimbingan saya selama ini. Saya jadi puyeng. Sudah lima tahun mengusahakan dan menanti perubahannya, tapi tak kunjung tiba. Maka saya sekarang sering merindukan bekas paca, dan tergoda menghubungi dia lagi, apalagi dia belum menikah.
Tapi ini tidak saya lakukan. Menghadapi persoalan ini, menurut Dokter apa yang harus saya lakukan? Terus terang saya akhir-akhir ini jadi malas berhubungan intim, dan pilih menyelesaikan sendiri sambil membayangkan bekas pacar. Terimakasih.” Robert, Jakarta. Bukan Solusi Perilaku seksual dipengaruhi oleh dorongan seksual, pengetahuan seksual, nilai sosial masyarakat, dan pengalaman seksual sebelumnya. Jadi tak aneh kalau terdapat perbedaan perilaku seksual antara satu orang dengan orang lain atau satu masyarakat dengan masyarakat yang lain.
Kalau pengalaman seksual Pak Robert dengan pacarnya dulu menyenangkan, tentu wajar kalau dia ingin mengalami seperti itu lagi. Tetapi sayang, pengalaman yang menyenangkan itu tidak dia peroleh dari isterinya. Perbedaan ini tentu tidak menyenangkan bagi Pak Robert, dan wajar bila kemudian dia merasa malas untuk melakukan hubungan seksual dengan isterinya. Tetapi walaupun wajar, bukan berarti keadaan ini boleh dibiarkan begitu saja.

Mungkin bagi Pak Robert, sesuai pengakuannya, keadaan itu dapat diatasi dengan melakukan masturbasi sambil membayangkan mantan pacarnya. Tetapi tentu itu bukan solusi atau jalan keluar, karena bagaimana pun dia harus memikirkan kepentingan seksual isterinya. Walaupun tidak dijelaskan, saya dapat menduga bahwa isteri Pak Robert hanya menempatkan diri sebagai pelayan suami. Dapat diduga bahwa dia tidak dapat menikmati hubungan seksual yang dilakukan.

Masalahnya, apakah isteri Pak Robert terganggu atau tidak dengan kehidupan seksual seperti itu. Seharusnya sebagai manusia normal ia merasa terganggu. Jadi kalau sampai perilaku seksualnya seperti itu dan tidak sesuai harapan Pak Robert, tentu ada sebabnya. Tidak Efektif Kembali ke faktor yang mempengaruhi perilaku seksual, tentu ada di antaranya yang menyebabkan perilaku isteri Pak Robert seperti itu. Untuk mengetahui dengan benar diperlukan konsultasi dan evaluasi lebih lanjut. Mungkin benar Pak Robert telah berupaya menanyakan dan memberitahu apa yang harus dilakukan sesuai keinginannya. Tetapi apa yang diusahakannya belum tentu benar dan efektif.

Terbukti tidak ada perubahan sesuai harapan Pak Robert. Memang tidak mudah sebagai suami menyelesaikan masalah itu sendiri. Apalagi kalau tidak ada komunikasi yang baik dengan isteri. Ditambah lagi kalau ada pandangan bahwa isteri hanya pelayan seksual suami. Walaupun mungkin benar isteri Pak Robert puritan, bukan berarti tak punya dorongan seksual. Karena punya dorogan seksual, berarti dia juga ingin melakukan hubungan seksual. Tapi kalau ternyata hubungan seksual yang dilakukan tidak menyenangkan, tentu muncul kecenderungan untuk tidak melakukan lagi. Saya khawatir isteri Pak Robert tidak dapat menikmati kehidupan seksualnya selama menikah. Agaknya hal ini tidak diperhatikan oleh Pak Robert, dan memang tidak dijelaskan dalam surat di atas.

Saatnya Mendatangi Ahli Saya sarankan Pak Robert dan isterinya berkonsultasi dengan tenaga ahli untuk mengatasi masalah itu. Mungkin saja ada hambatan bagi sang isteri untuk menyampaikan apa yang dialami dalam kehidupan seksualnya selama ini. Dengan bantuan tenaga ahli, diharapkan dapat diungkap bagaimana dorongan seksualnya, pengetahuan seksualitasnya, pandangan tentang hubungan seksual dan berbagai aktivitas seksual lain, dan pengalaman seksualnya selama menikah.

Dari konsultasi yang mendalam dapat diketahui dengan benar bagaimana faktor di atas pada diri sang isteri, sehingga menyebabkan perilaku seksualnya tidak sesuai dengan yang diharapkan suami. Setelah itu barulah dapat ditentukan langkah penanganan selanjutnya. Jika hanya kurang pengetahuan, lebih mudah untuk memberi informasi. Tetapi kalau ada faktor lain yang mempengaruhi, tentu pemberian informasi saja tidak dapat menyelesaikan masalah. Contohnya, kalau isteri tidak pernah mencapai orgasme, wajar kalau dia tidak ingin melakukannya lagi. Kalau ini yang terjadi, maka kegagalan orgasme inilah yang harus diatasi lebih dulu. Tetapi hal lain yang juga perlu dipikirkan Pak Robert ialah pentingnya kebersamaan dalam kehidupan seksual. Artinya, Pak Robert tidak boleh memaksakan keinginannya dan isteri harus menuruti. Ia pun harus memenuhi keinginan isteri.

Contohnya, kalau Pak Robert ingin melakukan hubungan seksual dengan posisi tertentu sesuai pengalaman dengan pacar dulu, belum tentu isterinya mau. Kalau isteri merasa tidak nyaman dengan posisi itu, tentu dia tidak bersedia. Dalam keadaan seperti ini, Pak Robert tidak boleh memaksakan kehendaknya.

Masalah seksual memang tidak selalu sederhana, apalagi kalau sudah berlangsung lama. Masalah seksual yang dialami Pak Robert tidak sederhana, apalagi karena sudah berlangsung lima tahun tanpa kejelasan penyebabnya. Maka mengatasinya juga tidak sederhana. Untuk itu, segeralah berkonsultasi lebih lanjut.

@ Sumber: Gaya Hidup Sehat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: