Teluk Lampung Tercemar Berat Bahan Organik dan Nutrien

5, November 2008

Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung memastikan berbagai aktivitas yang diikuti pembuangan limbah langsung ke Teluk Lampung sudah mencemari perairan tersebut. Teluk Lampung diketahui mengandung bahan organik dan unsur-unsur nitrogen yang tinggi sehingga berbahaya bagi ikan dan udang.

Kepala BBPBL Lampung, M Murdjani, Kamis (23/10) pada Seminar Seminar Tripartit yang dihadiri pelaku usaha perikanan udang dan kerapu, Dinas Kelautan dan Perikanan, serta Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Kabupaten Pesawaran mengatakan, kegiatan-kegiatan yang sangat berpengaruh terhadap kualitas air di perairan Teluk Lampung adalah kegiatan industri, rumah tangga, pertanian, dan pertambakan. Berbagai kegiatan itu memberi kontribusi masuknya limbah yang cukup tinggi serta terus menerus ke Teluk Lampung.

Untuk mengetahui kualitas air Teluk Lampung, petugas BBPBL Lampung mengambil contoh air di enam titik yang tersebar di Teluk Lampung dan menelitinya mulai JanuariAgustus 2008. Enam titik itu di Tanjung Putus, Puhawang, Ringgung, Teluk Hurun, Tarahan, dan Kalianda.

Di enam titik tersebut, selain aktivitas rumah tangga dan industri, aktivitas yang paling banyak adalah aktivitas pertambakan udang intensif dan keramba jaring apung (KJA) dengan budidaya utama kerapu.

Contoh air dari enam titik di Teluk Lampung diuji di laboratorium untuk mengukur kandungan nutrien, kandungan total bahan organik (TOM), dan mengindentifikasi plankton. Hasil pengukuran dan pengujian menunjukkan kualitas oksig en terlarut (DO), suhu, pH, serta kadar garam atau salinitas di enam lokasi itu relatif stabil.

Namun untuk pengukuran TOM antara satu lokasi dengan lokasi lain fluktuatif. Konsentrasi tertinggi ada di Teluk Hurun dengan kandungan di atas 60 ppm. Lokasi kedua yang mengandung konsentrasi TOM tinggi ada di Tanjung Putus sekitar 48 ppm sementara di Tarahan sekitar 40 ppm.

Untuk kandungan nutrien, konsentrasi nutrien di Teluk Hurun dan Tanjung Putus cenderung lebih tinggi dibanding empat lokasi lain. BBPBL Lampung memastikan dilihat dari banyaknya kegiatan budidaya perikanan baik KJA maupun tambak udang intensif di sepanjang pesisir Teluk Lampung khususnya di lokasi itu memberi kontribusi peningkatan masuknya limbah organik ke perairan.

Tambak udang memberi kontribusi peningkatan kandungan nutrien dari pembuangan limbah tambak yang tidak melalui pengolahan atau perlakuan, sehingga limbah tambak yang mengandung sisa-sisa makanan langsung terbuang ke laut. Hal demikian juga berlaku bagi KJA.

Tingginya kandungan unsur nutrien ini berbahaya karena dapat mempengaruhi tingkat kesuburan perairan dan memicu peningkatan plankton. “Apabila yang meningkat adalah beberapa spesies dari plankton yang beracun atau dari kelompok dinoflagellata, maka akan berbahaya bagi manusia,” ujar Murdjani.

Menurut Murdjani, manusia bisa keracunan karena plankton-plankton tersebut terakumulasi dalam ikan atau udang. Penderita bisa mengalami gangguan syaraf, pusing, sakit perut/diare, serta kejang-kejang.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Lampung, Untung Sugiyatno mengatakan, tingginya tingkat pencemaran dapat berbahaya bagi budidaya perikanan udang dan KJA. “Sudah saatnya pemilik usaha perikanan mawas diri,” ujarnya.

Tambak-tambak yang tidak dilengkapi dengan unit pengolahan limbah (UPL) sebaiknya segera melengkapi diri dengan UPL. Sementara KJA disarankan untuk tidak asal membuang sisa-sisa pakan ke dalam perairan.


Pengembangan dan Penerapan Bioteknologi Kelautan Perlu SDM Kelautan Yang Handal

5, November 2008
Menteri Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Fredi Numberi mengatakan dirinnya selalu insan kelautan, mengajak seluruh insan perikanan dan kelautan lebih giat mendalami IPTEK, dimana dalam bidang kelautan masih banyak peluang teknologi yang bisa digali lebih jauh. Demikian imbaunnya belum lama ini.
Di ungkapkan, Seringkali kita bicara besarnya potensi sumberdaya alam yang dimiliki oleh indonesia, namun seringkali juga kita lupa bahwa pemanfaatan potensi yang besar tersebut akan menjadi terhambat apabila dukungan IPTEK tidak secara simultan dilakukan. atau bahkan laju pemanfaatan tersebut dapat menjadi tidak terkendali jika teknologi yang diterapkan bersifat merusak dan tidak memikirkan kaidah-kaidah pembangunan berkelanjutan.
Di sisi lain, IPTEK tak mungkin bisa berkembang tanpa peningkatan kualitas sumberdaya manusai (SDM). Keduanya harus berjalan beriringan dan bersinergi. SDM yang tangguh dari segi kualitas dan kuantitas akan menunjang.Lebih lanjut Numberi mengatakan bahwa pengembangan dan penerapan bioteknologi kelautan antara lain untuk industri farmasi, makanan, kosmetik melalui teknik ekstraksi, bioactive subtances atau marine natural priduct. Tukasnnya.
Tidak hanya itu, pengembangan serta penerapan teknologi eksplorasi dan eksploitasai sumberdaya alam tidak dapat pulih seperti pertambangan masih dapat di kembangkan. ”Jadi bukan hanya bioteknologi namun eksploitasi sumberdaya alam seperti pertambangan dapat berkembangkan diwilayah Indonesia tentunya dengan penelitian dan di backup sumberdaya manusia yang handal”, jelasnnya.
Dijelaskan, selain pengembangan bioteknologi dan eksplorasi dan ekploitasi masih ada pengembangan serta penerapan teknologi pendayagunaan potensi sumberdaya energi non konvensional seperti OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion), energi kinetik dari pasang surut dan gelombang laut, serta energi alternatif yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Contohnya Pengembangan teknologi eksplorasi laut dalam (deep sea water eksploration), Penguasaan, pengembangan dan penerapan teknologi pengelolaan limbah di kawasan pesisir dan laut serta pengendalianya, serta Penerapan IPTEK lain untuk berbagai bidang yang terkait dengan pengembangaan teknologi kelautan dan kemaritiman. (wan)