25, Januari 2008
Kerugian ekonomi akibat akibat tindak pelanggaran illegal fishing, tentu saja sangat memprihatinkan. Berdasarkan asumsi yang dilansir FAO, kerugian negara akibat illegal fishing mencapai 3 trilyun rupiah pertahun. Dikatakan pula bahwa tingkat kerugian itu mencapai 25%dari total potensi perikanan yang kita miliki. Ini artinya, 25 dikalikan 6,4 juta ton ketemu angka 1,6 juta ton atau 1,6 milyar kg. Angka inilah yang disumsikan FAO, sehingga mendapat angka 30 trilyun rupiah dalam setiap tahunnya. Hitungan lain dalam konteks sebagian kerugian ekonomi akibat UUI Fishing dapat kita simak pada table di bawah ini.
Sebagian Kerugian Ekonomi Karena IUU Fishing
Kerugian Negara antara lain :
1. Pungutan Perikanan yang dibayarkan dengan tarif kapal Indonesia
2. Subsidi BBM yang dinikmati oleh kapal asing yang tidak berhak
3. Produksi ikan yang dicuri (Volume dan Nilai)
Lebih Lengkapnnya kunjungi Juga DKP
1 Komentar |
Info Perikanan | Ditandai: wawan |
Permalink
Ditulis oleh koralstp35
25, Januari 2008
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Kamis (24/1) menyampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan kepada masyarakat dan organisasi internasional yang telah tulus membantu proses tanggap darurat hingga tahapan pemulihan dan rekonstruksi di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dan Pulau Nias pascagempa bumi dan gelombang tsunami pada akhir Desember 2004 silam.Hal itu disampaikan Presiden Yudhoyono saat acara “Terima Kasih Indonesia Kepada Dunia” (Indonesia Thanks The Worlds) yang diselenggarakan oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh dan Nias di Balai Sudirman, Jakarta, Kamis (24/1) malam.
Acara ini dihadiri perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) organisasi internasional seperti Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (ADB), Palang Merah dan Bulan Sabit Merah serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional dan lokal, para duta besar negara-negar sahabat dan pimpinan lembaga tinggi negara serta para menteri kabinet. “Bantuan Saudara semua akan dicatat oleh Tuhan Yang Maha Esa dan juga dicatat oleh sejarah serta dicatat dan dikenang oleh masyarakat Indonesia, khususnya mereka yang ada di Aceh dan Nias,” ujar Presiden.
Selanjutnya Presiden menyampaikan ucapan terimakasih itu dalam berbagai bahasa dunia, antara lain Inggris, Latin hingga bahasa China, Jepang dan bahasa Arab.
Menurut Presiden Yudhoyono, dari bencana gempa bumi dan gelombang tsunami yang terjadi, ada hikma dan pelajaran yang diperoleh. “Ada lima pelajaran yang bisa dipetik, di antaranya dalam keadaan sulit kita harus bersatu dan bertindak, kita juga harus bertindak cepat dan tepat dalam keadaan krisis dan darurat. Kita pun harus menyambut dengan tangan terbuka setiap bantuan dari manapun untuk sebuah aksi. Tidak boleh ada diskriminasi,” tambah Presiden.
Pelajaran lainnya, lanjut Presiden, setiap aksi dari sebuah bencana harus diikuti pula dengan tahapan rehabilitasi dan rekontruksi setelah aksi kesehatan, juga peranan dan faktor kepemimpinan di mana dia harus turun kelapangan secara langsung.
Sebelum menutup pidatonya, Presiden berpesan agar BRR Aceh dan Nias segera menuntaskan target-target yang belum diselesaikan sebelum April 2009. Pasalnya, setelah April 2009, tugas BRR diambil alih sepenuhnya oleh pemerintah di Aceh dan Nias.
Sumber : KCM
Leave a Comment » |
Berita Nasional | Ditandai: wawan |
Permalink
Ditulis oleh koralstp35